Menurut Kantor Berita ABNA, rakyat Pakistan kembali melakukan aksi unjuk rasa mengecam pemerintah Myanmar yang dinilai bertindak tidak adil dan zalim terhadap komunitas muslim Rohingnya.
Hari ahad lalu [7/6] ribuan rakyat Pakistan dari berbagai lapisan masyarakat, melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di kota Karachi. Selain menuntut pihak otoritatif Myanmar untuk menghentikan aksi kekerasan dan pengusiran komunitas muslim Rohingya, demonstran juga menuntut pemerintah Pakistan bertindah tegas dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar jika Myanmar tidak mengindahkan tuntutan ribuan demonstran tersebut.
Allamah Arsyad Qarasyi, pemimpin Organisasi Pergerakan Sunni Pakistan dalam orasinya menyebutkan kezaliman dan penindasan yang dialami sekelompok muslim tidak akan dibiarkan oleh muslim lainnya. Ia menyebutkan Muslim Pakistan wajib mengutuk kebiadaban pemerintah Myanmar yang bertanggungjawab atas peristiwa pembantaian dan pengusiran warga Rohingnya dari kampung halamannya.
“Kami juga menuntut kepada lembaga HAM Internasional untuk menunjukkan taji dan perannya. Membiarkan genocida terjadi adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.” tegasnya.
Pihak pemerintah Pakistan turut mendukung aksi unjuk rasa tersebut. Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif juga menyatakan mengutuk serangan etnis Budha radikal terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.
Sharif menyebut pembunuhan warga Muslim Rohingya Myanmar sebagai genosida dan mengkonfirmasikan dibentuknya komite untuk mencegah pembantaian muslim tertindas tersebut.
Sharif lebih lanjut mengungkapkan, komite ini akan bertemu dengan sejumlah perwakilan masyarakat internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) serta menekan pemerintah Myanmar untuk menumpas etnis Budha ekstrim dan menghentikan serangan brutal mereka terhadap etnis Muslim.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Chaudhry Nisar Ali Khan mengkritik kebungkaman serta ketidakpedulian PBB dan OKI terhadap pembantaian warga Muslim Myamnar. Ia menyeru organisasi tersebut mencegah pembantaian massal Muslim Rohingya.
Maulana Abdul Ghafoor Haideri, wakil ketua Majelis Senat Pakistan juga meminta negara-negara Islam termasuk Republik Islam Iran menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan penyiksaan serta pembantaian Muslim Rohingya.
Pemerintah Myanmar menyebut 1,3 juta Muslim Rohingya sebagai pendatang yang mengungsi ke negara ini dari Bangladesh. Oleh karena itu, Myanmar tidak mengakui etnis ini sebagai warganya dan bahkan menuntut mereka keluar dari negara ini.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, demonstran menunjukkan kemarahannya dengan menginjak-injak gambar dari sejumlah tokoh Budha yang dianggap bertanggungjawab dibalik pengusiran kelompok minoritas muslim Rohingnya.








